Pendidikan Rakyat

Alangkah tragis nasib para pemikir ekonomi Indonesia yang harus mengakui “lebih bodoh” dan kurang paham tentang ekonomi bangsanya ketimbang IMF

(Mubyarto, Kompas, 6 April 2004)

Seorang tokoh pimpinan sebuah parpol yang merosot jumlah pemilihnya dalam PEMILU legislatif 2004 berkomentar simpatik bahwa “kini rakyat tidak lagi bodoh” yaitu terbukti tidak lagi memberi suara pada parpol yang tidak menunjukkan pemihakan pada kepentingan ekonomi rakyat. Meskipun parpol yang kini lebih diminati rakyat belum tentu akan benar-benar lebih berpihak pada ekonomi rakyat, tetapi “rakyat banyak” ini sama sekali tidak ragu-ragu untuk meninggalkan parpol lama yang dianggap telah “mengkhianatinya”.

Kini kita dapat bertanya bagaimana rakyat telah memperoleh “pendidikan“, sehingga mereka menjadi “lebih cerdas” dalam memilih pemimpin yang dianggap lebih baik, yang diharapkan lebih berpihak pada kepentingan-kepentingannya. Adalah menarik juga untuk bertanya, mengapa di pihak lain justru ada kesan terjadi “kemunduran kualitas” para pemimpin yang kini cenderung “bertambah bodoh”, yaitu sekedar berebut kekuasaan, yang berarti lebih mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok ketimbang kepentingan rakyat banyak yang sebenarnya harus dilindungi dan diperjuangkan kepentingan ekonominya.

Kiranya dapat disimpulkan bahwa rakyat menjadi lebih cerdas melalui “pendidikan bebas luar sekolah”, melalui pengalaman praktek yang penuh perjuangan, belajar sambil berbuat, dan belajar sambil berjuang (learning by doing dan learning by struggling). Jika hal ini benar kita berhak mempertanyakan peran para ahli dan tokoh-tokoh pendidikan kita dalam mendidik masyarakatnya, baik secara tidak langsung pada anak-anak muda maupun secara langsung pada masyarakat. Rupanya rakyat dan masyarakat kita telah menjadi makin cerdas justru karena situasi dan kondisi yang “keras menggemblengnya” dalam kehidupan ekonomi dan sosialnya.

Ironis memang jika ternyata para elit kita “makin bodoh” karena dimanja akumulasi materi hasil pertumbuhan ekonomi yang tinggi, padahal di pihak lain rakyat dan masyarakat “makin cerdas” karena (terpaksa) terus berjuang melawan kemiskinan yang selalu menderanya.

Sumber : http://www.ekonomirakyat.org/editorial.php?hlm=12

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: