Fenomena Pendidikan, Mereka Ramai-ramai ke Homeschooling

Indira Permanasari

Homeschooling alias sekolah-rumah sudah mulai menjadi pilihan yang menarik bagi masyarakat dalam mendidik anak. Sejumlah tokoh, mulai dari dramawan kawakan seperti N Riantiarno sampai anggota DPR, mulai melirik model belajar tersebut untuk anak-anak mereka.

Seniman teater N Riantiarno tadinya sama sekali tidak mengenal apa itu homeschooling atau sekolah-rumah. Sampai kemudian salah satu putranya, Gagah Tridarma Prastya, makin merasa tak cocok dengan tempatnya bersekolah di sebuah SMA negeri di Jakarta.

“Anak saya sepertinya mengalami banyak masalah dalam belajar. Motivasinya agak berkurang sejak SMP. Padahal, waktu SD, Gagah terbilang pandai dan sangat menyukai pelajaran. Saya bukannya mengatakan sekolah formal buruk, tetapi sepertinya ada yang tidak bisa dipenuhi sekolah formal bagi anak saya,” kata Nano, sapaan akrabnya.

Keluarganya kemudian menghubungi komunitas sekolah-rumah yang dikelola Kak Seto dan mengajak Gagah ke tempat berkumpulnya anggota komunitas Homeschooling Kak Seto di Sekolah Lanjutan Perwira Polri, Jakarta Selatan.

Nano melihat di sini ada perbedaan besar dalam mendekati anak. “Begitu berkumpul, tutor bertanya, mereka hendak belajar apa hari ini. Luar biasa, kan? Anak-anak yang menentukan hari itu akan belajar apa. Saya melihat daya kreatif yang diutamakan. Ada pemberian teori dan kunjungan ke lapangan, lalu didiskusikan apakah terjadi penyimpangan,” katanya.

Keputusan pindah model pendidikan bukannya mudah, terlebih lagi ke sekolah-rumah. Kalau di sekolah formal yang bertanggung jawab ialah sistem, sekolah, dan guru, pada sekolah-rumah kesuksesan benar-benar berada di tangan anak dan keluarga. Anak-anak yang ikut pendidikan model sekolah-rumah bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Oleh karena itu, sebelum memutuskan pindah, Nano meminta Gagah berpikir masak-masak.

Gagah ternyata tertarik. Dia kemudian memutuskan pamit dari sekolah formalnya. Kini, dua hari dalam seminggu (Senin dan Rabu), selama dua jam lebih Gagah belajar bersama di komunitas Homeschooling Kak Seto. Selebihnya belajar bersama tutor yang datang ke rumah. Gagah sendiri yang menentukan jadwal dan materi pelajaran.

“Ada tutor yang datang ke rumah, seperti les privat, untuk mata pelajaran Fisika, Kimia, dan Matematika. Saya ambil yang tiga kali seminggu. Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia saya usahain belajar sendiri,” kata Gagah.

Gagah merasa lebih senang dan cocok dengan sistem itu. “Saya merasa lebih fokus. Kalau ada yang tidak mengerti bisa langsung bertanya ke tutor. Di sekolah lama susah karena satu kelas ada 40 murid dengan satu guru,” kata Gagah, yang pindah ke model sekolah-rumah saat duduk di kelas II SMA.

Agus Hasan Hidayat—putra dari anggota Komisi X DPR, Masduki Baedlowi—juga berpindah dari sekolah formal ke sekolah-rumah. “Sejak kelas I saya tidak betah di SMA lama saya di Serpong karena dari SMP yang pindah ke situ cuma saya sendiri. Jadi, sulit menyesuaikan diri. Tadinya mau pindah ke sekolah formal lain, tapi khawatir nanti sama aja,” kata remaja 16 tahun itu.

Agus belajar di rumah dengan bantuan guru privat IPA, Matematika, dan Bahasa Inggris. Setiap pelajaran dua jam sehari. Sama seperti Gagah, Agus juga ikut komunitas Homeschooling Kak Seto seminggu dua kali. Agus yang hitungannya baru kelas I SMA belajar bersama dengan murid lain dengan tingkatannya lebih tinggi.

“Belajarnya bareng, kadang ada materi yang belum pernah saya dapatkan di sekolah lama. Agar tidak ketinggalan dari yang lain, saya beli buku dan belajar sendiri di rumah. Bukunya kadang masing-masing anak berbeda. Bisa jadi, saya akan lulus lebih cepat dibandingkan kalau ikut sekolah formal,” katanya.

Biayanya sendiri memang lebih mahal dari sekolah lamanya karena mendatangkan guru privat ke rumah dan ikut komunitas. Tutorial di komunitas dikenai Rp 400.000 per bulan.

Tapi, Agus merasa cocok dan nyaman dengan model sekolah-rumah. Belajar di sekolah formal dinilai lebih melelahkan secara fisik dan pikiran karena di ruang kelas dari pagi sampai sore. Belum lagi tumpukan pekerjaan rumah. “Saya sekarang lebih banyak membaca buku. Kalau dulu tidak sempat karena keburu capek,” katanya.

Terkait pandangan sementara orang bahwa model sekolah-rumah bisa jadi masalah dalam sosialisasi anak, Nano justru tak begitu khawatir. Sebab, katanya, di komunitas terdapat banyak kegiatan dan pengalaman kunjungan ke lapangan. Hubungan putranya dengan keluarga juga lebih baik. Dari segi pembiayaan, bagi Nano, terhitung masih masuk akal dibandingkan dengan sekolah favorit yang memasang harga selangit. Apalagi dengan sistem sekolah-rumah satu anak berhadapan dengan satu mentor.

Menurut Munasprianto Rambil, koordinator tutorial Homeschooling Kak Seto, ada berbagai alasan anak berpindah dari sekolah formal ke sekolah-rumah. Sebagian karena pengalaman kurang berkesan, bullying atau diolok-olok teman-temannya, kurang dapat mengikuti pelajaran formal, ritme kehidupan yang berbeda, serta jenuh dengan mata pelajaran dan tumpukan pekerjaan rumah.

Akan tetapi, tentu tidak dapat digeneralisasi pengalaman anak di sekolah formal dan tidak dapat dibandingkan mana yang terbaik antara sekolah-rumah dan sekolah formal karena sistemnya memang berbeda. Namun, yang jelas bagi Munasprianto dan Nano sekolah-rumah hadir bukan untuk menandingi sekolah formal.

Di Amerika Serikat, sekitar 1,35 juta anak telah secara resmi mengikuti model sekolah-rumah. Padahal, sekitar 20 tahun lalu model sekolah-rumah di hampir seluruh negara bagian Amerika dianggap “kejahatan”. Itu tak lepas karena kurangnya sosialisasi anak, minimnya muatan kurikulum, dan kurangnya proteksi terhadap anak yang belajar di rumah.

Mengutip artikel “The Politics of Homeschooling: New Development, New Challenges” karya Bruce S Cooper dan Jhon Sureau, pakar pendidikan dari Fordham University, AS, awalnya sekolah-rumah hanya dilakukan oleh komunitas tertentu terkait ideologi dan agama. Belakangan, ketidakpuasan secara umum dengan sistem sekolah publik dan gaya hidup ikut berpengaruh.

Seiring dengan adanya gerakan sekolah-rumah yang terus bergulir dan komunitas terus membuktikan diri, akhirnya keberadaan sekolah-rumah dapat diterima. Legalitas juga diakui.

Di Tanah Air, aktor panggung Nano Riantiarno selaku orangtua mulai melihat sisi positif keberadaan sekolah-rumah. Itu terkait adanya perubahan sikap dalam diri putranya.

Kata Nano, “Gagah kini lebih banyak berinisiatif dan komunikatif mengutarakan pendapatnya dan bercerita apa yang dialaminya sehari-hari. Padahal, sebelumnya sangat pendiam….”

Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/02/PendDN/3499058.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: