Kurikulum Beridentitas Kerakyatan

Kurikulum memang bukan satu-satunya penentu mutu pendidikan. Ia juga bukan perangkat tunggal penjabaran visi pendidikan. Meskipun demikian, kurikulum menjadi perangkat yang strategis untuk menyemaikan kepentingan dan membentuk konsepsi dan perilaku individu warga,” kata panelis Agus Suwignyo.

Dalam sejarah pendidikan di Indonesia, pada rentang waktu tahun 1945-1949 dikeluarkan Kurikulum 1947. Tahun 1950-1961, ditetapkan Kurikulum 1952. Kurikulum terakhir pada masa Orde Lama adalah Kurikulum 1964.

Masa Orde Baru lahir empat kurikulum. Kurikulum 1968 ditetapkan dan berlaku sampai tahun 1975. Selanjutnya muncul Kurikulum 1975. Pada tahun 1984 dibuat kurikulum baru dengan nama Kurikulum 1975 yang Disempurnakan dengan pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Pada tahun 1994 dikeluarkan kurikulum baru, yakni Kurikulum 1994. Kurikulum itu menjadi kurikulum terakhir yang dikeluarkan oleh rezim Orde Baru.

Continue reading

Advertisements

Belajar dari Punokawan


Dalam dunia pewayangan istilah sedulur papat lima pancer merupakan simbolisasi ksatria dan empat abdinya. Sedulur papat adalah punokawan, lima pancer adalah ksatriya.

Dalam hal ini, yang dinamakan punokawan yakni Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk dan Bagong sebagai pengiring para ksatria Pandawa. Kehadiran mereka seringkali hanya dianggap sebagai tambahan yang kurang diperhitungkan dan untuk menghadirkan lelucon saja, padahal kerap menentukan arah perubahan.

Continue reading

Pendidikan Rakyat

Alangkah tragis nasib para pemikir ekonomi Indonesia yang harus mengakui “lebih bodoh” dan kurang paham tentang ekonomi bangsanya ketimbang IMF

(Mubyarto, Kompas, 6 April 2004)

Seorang tokoh pimpinan sebuah parpol yang merosot jumlah pemilihnya dalam PEMILU legislatif 2004 berkomentar simpatik bahwa “kini rakyat tidak lagi bodoh” yaitu terbukti tidak lagi memberi suara pada parpol yang tidak menunjukkan pemihakan pada kepentingan ekonomi rakyat. Meskipun parpol yang kini lebih diminati rakyat belum tentu akan benar-benar lebih berpihak pada ekonomi rakyat, tetapi “rakyat banyak” ini sama sekali tidak ragu-ragu untuk meninggalkan parpol lama yang dianggap telah “mengkhianatinya”.

Continue reading