Belajar dari Punokawan


Dalam dunia pewayangan istilah sedulur papat lima pancer merupakan simbolisasi ksatria dan empat abdinya. Sedulur papat adalah punokawan, lima pancer adalah ksatriya.

Dalam hal ini, yang dinamakan punokawan yakni Semar sebagai pamomong keturunan Saptaarga ditemani oleh tiga anaknya, yaitu; Gareng, Petruk dan Bagong sebagai pengiring para ksatria Pandawa. Kehadiran mereka seringkali hanya dianggap sebagai tambahan yang kurang diperhitungkan dan untuk menghadirkan lelucon saja, padahal kerap menentukan arah perubahan.

Continue reading

Advertisements

Ketidak Jelasan Asal Usul KPU

Dalam Undang-Undang Pemilu terbaru Nomor 22 tahun 2007 tentang Sistem Keanggotaan Komisi Pemilihan Umum dan Komisi Pemilihan Umum Daerah perlu dikritisi karena tidak adanya aturan yang dibuat secara tegas dalam mengatur asal usul keanggotaan KPU/KPUD. Seharusnya latar belakang anggota KPU/KPUD dijelaskan secara tegas seperti dalam UU No 12/2003, yakni dari kalangan akademisi, profesional, dan lembaga swadaya masyarakat. Hal ini menjadi peluang bagi masuknya partai politik dan perwakilan pemerintah ke dalam KPU/KPUD yang akan berimbas pada munculnya potensi konflik dalam setiap penyelenggaraan pemilu/pilkada yang semakin bertambah besar.

Kelemahan lain dari UU Pemilu terbaru ini adalah tidak diaturnya otoritas KPU/KPUD untuk menonaktifkan anggotanya yang tidak mampu menjalankan tugas, yang dikhawatirkan akan membahayakan kelangsungan KPUD, jika terjadi konflik sebagai bagian dari Politik Kepentingan Elit, maupun sebab yang lain.

Continue reading

Fenomena Pendidikan, Mereka Ramai-ramai ke Homeschooling

Indira Permanasari

Homeschooling alias sekolah-rumah sudah mulai menjadi pilihan yang menarik bagi masyarakat dalam mendidik anak. Sejumlah tokoh, mulai dari dramawan kawakan seperti N Riantiarno sampai anggota DPR, mulai melirik model belajar tersebut untuk anak-anak mereka.

Seniman teater N Riantiarno tadinya sama sekali tidak mengenal apa itu homeschooling atau sekolah-rumah. Sampai kemudian salah satu putranya, Gagah Tridarma Prastya, makin merasa tak cocok dengan tempatnya bersekolah di sebuah SMA negeri di Jakarta.

Continue reading

Tidak Mesti Mahal Kok

Indira Permanasari

Namanya Hasan. Umurnya baru 7 tahun. Ia paling suka pelajaran Matematika. Cita-citanya ingin menjadi astronot dan suatu saat ingin ke Planet Mars. Ada lagi Husen, kembaran Hasan, yang suatu saat ingin menjadi tentara. Di sebelahnya, Vida, yang berusia 8 tahun, bercita-cita menjadi guru.

Lain lagi Bilal, yang ingin menjadi arsitek dan sudah pintar membuat maket. Nah, yang terkecil bernama Safik. Umurnya baru enam tahun dan paling suka menggambar dinosaurus. Mereka berlima putra- putri Ny Yayah Komariah.

Continue reading

Pendidikan Rakyat

Alangkah tragis nasib para pemikir ekonomi Indonesia yang harus mengakui “lebih bodoh” dan kurang paham tentang ekonomi bangsanya ketimbang IMF

(Mubyarto, Kompas, 6 April 2004)

Seorang tokoh pimpinan sebuah parpol yang merosot jumlah pemilihnya dalam PEMILU legislatif 2004 berkomentar simpatik bahwa “kini rakyat tidak lagi bodoh” yaitu terbukti tidak lagi memberi suara pada parpol yang tidak menunjukkan pemihakan pada kepentingan ekonomi rakyat. Meskipun parpol yang kini lebih diminati rakyat belum tentu akan benar-benar lebih berpihak pada ekonomi rakyat, tetapi “rakyat banyak” ini sama sekali tidak ragu-ragu untuk meninggalkan parpol lama yang dianggap telah “mengkhianatinya”.

Continue reading